
Seni tidak selalu sekadar tentang apa yang terlihat. Sebuah lukisan dapat menjadi rekaman perjalanan, ingatan, perasaan, hingga cara seorang seniman memahami dunia di sekitarnya. Gagasan tersebut menjadi bagian penting dalam Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono, pameran tunggal yang menghadirkan 13 karya dari berbagai periode dan tema di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo Yogyakarta.
Berlangsung pada 1–30 September 2026, Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono mengajak pengunjung menyusuri hubungan antara alam, manusia, budaya, perjalanan, serta pengalaman batin. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya berasal dari periode terbaru, tetapi juga memperlihatkan karya tahun 2005 yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Klowor dalam mengeksplorasi bentuk dan bahasa visual.
Memahami Makna “Bentang Jiwa”
Nama Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono berangkat dari pertemuan dua hal, yaitu “bentang” yang berada di luar diri dan “jiwa” yang tumbuh dari pengalaman di dalam diri. Bentang dapat berupa gunung, laut, pelabuhan, pepohonan, bunga, sumber mata air, hingga ruang budaya. Sementara itu, jiwa terbentuk melalui perasaan, ingatan, harapan, pengalaman spiritual, kebahagiaan, ketenangan, dan perjalanan memahami kehidupan.
Dalam Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono, alam tidak hanya menjadi objek yang dituangkan ke dalam kanvas. Alam menjadi pintu masuk bagi Klowor untuk merefleksikan kehidupan. Sebaliknya, pengalaman batin turut memengaruhi bagaimana ia melihat dan menerjemahkan alam ke dalam karya.
Salah satu pendekatan yang menarik adalah proses On the Spot (OTS). Beberapa karya dibuat secara langsung ketika seniman berada di lokasi yang diamati. Dengan proses tersebut, suasana, cahaya, udara, waktu, dan kondisi lingkungan menjadi bagian dari pengalaman penciptaan karya.
13 Karya dalam Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono
Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono menghadirkan 13 karya yang merepresentasikan perjalanan artistik Klowor dalam mengamati alam, manusia, budaya, hingga pengalaman personal. Setiap karya memiliki cerita dan pendekatan visual yang berbeda.
1. Iconic of Jogja

Iconic of Jogja menghadirkan Tugu Yogyakarta dan Gunung Merapi dalam satu lanskap penuh warna. Kedua ikon tersebut memiliki keterkaitan dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang menghubungkan Laut Selatan, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih, hingga Gunung Merapi.
Melalui karya ini, Yogyakarta tidak hanya ditampilkan sebagai sebuah tempat, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan identitas, sejarah, dan nilai budaya.
2. Tanah Nusantara

Tanah Nusantara membawa pengunjung pada gambaran kekayaan lanskap Indonesia melalui pegunungan dan keragaman flora. Klowor menggunakan warna-warna yang kuat dan kontras dengan bentuk alam yang mengalami deformasi secara dekoratif.
Alih-alih menghadirkan pemandangan secara realistis, karya ini lebih menonjolkan permainan warna, bentuk, dan ritme untuk menggambarkan energi alam Nusantara.
3. Holiday

Dalam Holiday, pengalaman berlibur diterjemahkan sebagai pengalaman personal yang berkaitan dengan kebahagiaan. Figur kucing hitam menjadi objek utama sekaligus simbol kebahagiaan bagi Klowor.
Di sekeliling figur tersebut terdapat lanskap, flora, Borobudur, serta bentuk joglo yang membawa unsur wisata, budaya, dan perjalanan spiritual. Liburan dalam karya ini tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menikmati alam, mengenal budaya, dan kembali terhubung dengan diri sendiri.
4. Lentera Doa

Lentera Doa menghadirkan suasana pelepasan lampion dalam perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur. Ribuan cahaya yang bergerak menuju langit menjadi bagian penting dari karya ini.
Dalam karya tersebut, lentera menjadi simbol perjalanan manusia dalam mencari pencerahan. Cahaya yang terbang ke langit juga membawa makna doa, harapan, dan kebijaksanaan di tengah berbagai beban kehidupan.
5. Merbabu I

Merbabu I merupakan salah satu karya yang dibuat melalui proses On the Spot (OTS) di kawasan Ketep. Klowor mengamati Gunung Merbabu secara langsung dan menerjemahkan pengalamannya ke dalam lukisan.
Proses OTS membuat kondisi lingkungan dan pengalaman saat berada di lokasi menjadi bagian dari proses penciptaan karya. Gunung Merbabu kemudian tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun ketenangan dan kedekatan dengan alam.
6. Merbabu II

Masih melalui proses On the Spot, Merbabu II memperlihatkan pengalaman Klowor dalam mengamati lanskap Gunung Merbabu. Karya ini menjadi bagian dari eksplorasi terhadap alam yang dilakukan secara langsung di lokasi.
Melalui pengamatan tersebut, Klowor menerjemahkan lanskap gunung ke dalam bahasa visualnya dengan proses yang spontan dan dipengaruhi oleh keterbatasan waktu saat melukis di tempat.
7. Pelabuhan Area 7 Cilacap (1)

Pelabuhan Area 7 Cilacap (1) lahir dari pengalaman Klowor ketika mengamati kawasan pelabuhan Cilacap melalui proses OTS.
Kapal, air, pepohonan, dan daratan menjadi elemen yang membangun suasana karya. Pelabuhan kemudian dapat dipandang sebagai ruang yang mempertemukan perjalanan, keberangkatan, dan tempat berlabuh.
8. Pelabuhan Area 7 Cilacap (2)

Karya kedua, Pelabuhan Area 7 Cilacap (2), kembali mengangkat pengalaman Klowor dalam melihat kawasan pelabuhan. Berbeda dari sekadar menghadirkan pemandangan pesisir, karya ini juga membawa gagasan mengenai perjalanan dan perubahan.
Kapal dapat dibaca sebagai simbol keberanian untuk bergerak dan menghadapi perubahan, sementara air menggambarkan arus kehidupan yang terus berjalan.
9. Jelita

Karya Jelita memperlihatkan eksplorasi Klowor terhadap figur kucing. Dalam karya ini, seekor kucing berwarna merah dengan ekspresi tenang digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai kecantikan.
Klowor tidak menggambarkan kecantikan melalui figur manusia secara realistis. Sebaliknya, figur kucing menjadi medium untuk menunjukkan bahwa keindahan dapat hadir dalam berbagai bentuk dan perspektif.
10. Pretty Women

Pretty Women juga menggunakan figur kucing sebagai medium visual. Seekor kucing bersayap digunakan untuk merepresentasikan sosok perempuan cantik.
Sayap dalam karya ini menjadi simbol kebaikan hati dan ketulusan, seperti gambaran seorang malaikat. Dengan demikian, kecantikan tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga dengan karakter dan kebaikan yang ada di dalam diri.
11. Romeo & Juliet

Terinspirasi dari kisah cinta klasik, Romeo & Juliet menampilkan dua figur kucing sebagai representasi pasangan dalam cerita tersebut.
Karya ini merupakan bagian dari eksplorasi Klowor terhadap figur kucing pada 2005. Bentuk kucing tidak ditampilkan secara realistis, melainkan mengalami deformasi sambil tetap mempertahankan karakter visualnya.
12. Mimpi Indah

Mimpi Indah mengangkat hubungan antara kenyataan dan dunia mimpi melalui figur kucing. Salah satu kucing digambarkan sedang tertidur, sementara figur lainnya menjadi representasi sosok yang hadir dalam mimpinya.
Karya ini menunjukkan bagaimana figur yang sama dapat digunakan Klowor untuk menyampaikan pengalaman yang berbeda, termasuk dunia imajinasi dan pengalaman personal.
13. Oase

Sebagai karya terakhir, Oase kembali membawa pengunjung pada hubungan manusia dengan alam. Karya ini menggambarkan sumber mata air di lereng gunung sebagai pusat kehidupan bagi berbagai flora dan fauna.
Air menjadi simbol keberlangsungan hidup sekaligus pengingat mengenai pentingnya menjaga sumber mata air dan keseimbangan ekosistem. Melalui Oase, alam tidak hanya menjadi objek untuk dinikmati, tetapi juga sesuatu yang perlu dijaga untuk kehidupan generasi mendatang.
Dari Kucing hingga Gunung, Semuanya Menjadi Bagian dari Perjalanan
Jika dilihat secara keseluruhan, Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono memperlihatkan perjalanan artistik yang cukup luas. Pengunjung dapat menemukan lanskap gunung, pelabuhan, flora, budaya Yogyakarta, Borobudur, hingga figur kucing yang telah menjadi bagian dari eksplorasi Klowor sejak karya-karyanya pada 2005.
Perbedaan objek tersebut justru memperlihatkan bagaimana pengalaman dapat membentuk bahasa visual seorang seniman. Bentuk dan objek dapat berubah, tetapi terdapat benang merah berupa kebutuhan untuk melihat, merasakan, dan menemukan makna dari pengalaman.
Karena itu, Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono dapat dilihat bukan hanya sebagai kumpulan lukisan, tetapi sebagai perjalanan dari apa yang terlihat menuju apa yang dirasakan. Gunung dapat menjadi ruang perenungan, laut menjadi simbol perjalanan, pelabuhan menjadi gambaran perubahan, mata air menjadi pengingat kehidupan, sementara kucing menjadi medium untuk membicarakan cinta dan kecantikan.
Saksikan Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono di GRAMM
Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono berlangsung pada 3–30 September 2026 di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo Yogyakarta. Pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara karya, pengalaman, dan pengunjung untuk bersama-sama menyusuri hubungan antara alam, ingatan, budaya, dan jiwa.
Bagi Anda yang ingin menikmati karya seni sekaligus merasakan suasana Yogyakarta dari perspektif yang berbeda, pameran ini dapat menjadi salah satu agenda yang menarik untuk dikunjungi.
Informasi Pameran
GRAMM HOTEL by Ambarrukmo terus membuka ruang bagi seniman untuk berbagi karya dan cerita melalui pameran. Informasi mengenai program pameran dapat diperoleh melalui Merlin di 0831 4553 3737.
Nikmati Pengalaman Seni di GRAMM Hotel
Setelah menikmati Pameran Bentang Jiwa Klowor Waldiyono, Anda juga dapat melanjutkan pengalaman dengan menikmati berbagai fasilitas dan kenyamanan di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo. Berada di Yogyakarta, GRAMM dapat menjadi pilihan akomodasi bagi Anda yang ingin menggabungkan agenda seni, perjalanan, dan waktu beristirahat dalam satu kunjungan.
Hubungi Tim Reservasi GRAMM Hotel:
WhatsApp: +62 811-2850-088
Telepon: (0274) 2800 888
Email: reservation@grammhotel.com