Fantasi sering kali dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak penting. Tak jarang, imajinasi-imajinasi dalam pikiran dianggap hanya pelarian semata. Lully Tutus punya pandangan yang berbeda. Baginya, fantasi merupakan ruang bebas untuk jujur dalam memahami kehidupan.
Melalui pameran tunggal keduanya yang berjudul “My Fantasy is Very Serious!”, Lully Tutus mengajak kita untuk masuk dan menjelajahi ke dunia di mana batas antara kenyataan, mimpi, dan fantasi menjadi cair, bahkan, nyaris tidak terpisahkan.
Fantasi Bukan Pelarian
Sejak kecil, Lully Tutus merasa hidupnya selalu “dihuni” dan berdampingan dengan fantasi. Menurut Lully, imajinasi yang ada dalam kepala bukan sesuatu yang harus dihandiri. Fantasi merupakan hal yang harus dirawat dan baginya, hal tersebut telah memberinya cara pandang terhadap dunia.
Ia (fantasi) adalah cara untuk menyelami emosi yang paling dalam
Lully Tutus
Fantasi Lully Tutus dituangkan lewat karya-karyanya. Warna-warna cerah, bentuk-bentuk ‘tak biasa’, hingga detail kompleks, bukan sekedar sebuah estetika belaka. Semua hal itu merupakan cara untuk mengakui bahwa hidup tidak pernah terbagi dalam hitam dan putih saja. Emosi, pengalaman, dan makna hadir dalam banyak lapisan.
Melepaskan Batas Logika
Karya-karya Lully Tutus mengajak kita untuk menjelajahi dunia dengan bebas. Penuh imajinasi, simbol, dan cerita-cerita yang bebas dari batas logika.
Bagi Lully Tutus, melukis adalah menulis cerita tanpa akhir.
Setiap kanvas, menurutnya, adalah ruang terbuka. Ia dapat dengan bebas menjelajahi makna, berubah, dan menafsirkan hal-hal secara personal oleh siapa saja yang melihatnya.
‘Membaca’ Karya Lully Tutus
Lebih dari sekedar visual. Karya Lully Tutus mempunyai lapisan makna, tentang identitas dan kehidupan, hingga perjalanan batin. Beberapa karya ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami dunia Lully.
Lully Tutus | Self Support Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 2026Lully Tutus | Tradisi dan Modernisasi Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 2026Lully Tutus | My Orchestra Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 202Lully Tutus, | Rikma Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 2025
Lukisan ini berbicara tentang rambut sebagai simbol identitas dan kehormatan perempuan. Tidak sekadar bentuk fisik, tapi juga representasi kebebasan dalam menentukan diri.
Lully Tutus | My World Acrylic on canvas, 200 x 150 cm, 2025
Di sini, Lully membuka “isi kepalanya”. Dunia penuh warna, makhluk, dan kemungkinan. Sebuah semesta yang mungkin tidak logis, tapi terasa hidup.
Lully Tutus | Atman Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 2026
Karya Atman (2026) berbicara tentang jiwa. Tentang esensi diri yang tidak terbatas oleh tubuh maupun ruang. Saya teringat masa kecil ketika begitu menyukai dunia fantasi tanpa batas. Saya ingin terbang, ingin berdiri di pulau terpencil, ingin melihat dunia dari tempat yang berbeda. Dalam lukisan ini, keinginan itu kembali muncul sebagai simbol pencarian jati diri, sebuah perjalanan untuk memahami siapa kita sebenarnya di tengah luasnya semesta.
My Orchestra (2026) My Orchestra (2026) saya menemukan musik di tempat yang tidak selalu dianggap musikal. Tangisan anak, tawa yang tiba-tiba pecah, kegaduhan rumah tangga, keriuhan tukang kala membenahi rumah, itu semuanya bagi saya adalah bagian dari sebuah “orkestra kehidupan”. Di sanalah saya belajar tentang makna menjadi seorang ibu: sebuah pengalaman yang penuh keindahan, tetapi juga penuh tantangan. Orkestra ini tidak selalu harmonis, tetapi justru dari ketidakteraturan itulah lahir irama yang paling jujur.
Iwak Pitik (2026) Sebuah simbol tentang perempuan, tentang kesabaran, ketahanan, dan perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.
Lully Tutus | Iwak Pitik Acrylic on canvas, 110 x 90 cm, 2026
Karya Iwak Pitik (2026) menghadirkan fantasi simbolik. Lukisan ini berbicara tentang kesabaran, kesadaran, penantian, dan kesetiaan perempuan dalam mengarungi kehidupan. Sosok perempuan dalam lukisan digambarkan menyimpan ayam di dalam rok, sebuah metafora tentang kehidupan yang dipelihara dengan penuh perhatian, meskipun harus melewati berbagai gelombang pengalaman. Fantasi di sini bukan sekadar cerita aneh, melainkan cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang sering kali tersembunyi dalam keseharian.
Self Support (2026)
Lully Tutus | Self Portrait Acrylic on canvas, 70 x 60 cm, 2026Lully Tutus | Prana Acrylic on canvas, 70 x 60 cm, 2026Lully Tutus | Kalyanamitta Acrylic on canvas, 70 x 60 cm, 2026
Pameran terbuka untuk umum
Pameran ini terbuka untuk umum mulai 2 April hingga 17 Mei 2026 di SMARA Restaurant.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, pengunjung diajak menyelami dunia imajinasi, emosi, dan cerita yang lahir dari perspektif seorang seniman perempuan. Setiap lukisan menghadirkan pengalaman yang berbeda—membuka ruang untuk merenung, merasakan, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih peka.
Bagi Anda yang berada di Yogyakarta atau sedang berkunjung, pameran ini bisa menjadi pilihan untuk menikmati seni dalam suasana yang hangat dan intim. Luangkan waktu sejenak untuk berhenti, mengamati, dan merasakan cerita di balik setiap karya.
Mari datang dan rasakan sendiri perjalanan imajinasi tersebut di SMARA Restaurant, GRAMM HOTEL by Ambarrukmo. Pameran ini menanti untuk Anda jelajahi.